Evakuasi Satwa Liar Saat Bencana: Protokol Penyelamatan dan Konservasi

Ketika bencana alam melanda kawasan yang berdekatan atau merupakan habitat alami satwa, perhatian publik seringkali terfokus pada keselamatan manusia. Namun, evakuasi satwa liar dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati merupakan bagian integral dari manajemen bencana yang komprehensif. Satwa liar, khususnya spesies endemik dan dilindungi, sangat rentan terhadap dampak bencana seperti banjir, kebakaran hutan, atau erupsi gunung api. Oleh karena itu, diperlukan protokol yang jelas dan tim khusus untuk melaksanakan penyelamatan dan menjamin konservasi jangka panjang spesies tersebut, bukan hanya sebagai respons kemanusiaan tetapi juga sebagai tanggung jawab ekologis.

Protokol untuk evakuasi satwa liar dimulai dengan fase pencegahan dan pemantauan. Di daerah rawan bencana seperti taman nasional yang berdekatan dengan gunung api aktif, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bekerja sama untuk memantau pergerakan satwa yang tidak biasa. Satwa liar sering menunjukkan perilaku migrasi sebelum bencana besar, yang dapat menjadi indikator awal. Ketika status bencana dinaikkan, tim reaksi cepat (TRC) BKSDA segera disiagakan. Tim ini terdiri dari dokter hewan, ahli biologi, dan petugas lapangan yang terlatih dalam penanganan satwa. Pada tahun 2024, BKSDA Jawa Timur melaksanakan pelatihan penanganan satwa liar bagi 50 petugas Polhut dan relawan di kawasan pegunungan, yang dilaksanakan setiap hari Kamis selama bulan Juni.

Fase pelaksanaan evakuasi satwa liar menuntut kehati-hatian tinggi. Satwa yang berhasil diselamatkan—seperti orangutan, gajah, atau harimau yang mungkin terisolasi atau terluka—harus ditangani sesuai prosedur standar operasional (SOP) yang meminimalkan stres dan risiko cedera. Penggunaan senjata bius atau jaring khusus hanya dilakukan oleh personel yang memiliki sertifikasi. Satwa yang berhasil diselamatkan dibawa ke pusat rehabilitasi sementara ( transit facility ) yang aman dan steril. Misalnya, pasca-kebakaran hutan di Kalimantan pada tahun 2023, lebih dari 50 individu orangutan dan bekantan berhasil diamankan dan dirawat di pusat penyelamatan di Kabupaten Ketapang.

Tantangan terbesar dalam evakuasi satwa liar adalah koordinasi logistik dan keamanan. Satwa besar memerlukan kendaraan angkut khusus dan pengamanan ekstra selama perjalanan. Untuk memastikan keamanan logistik ini, BKSDA bekerja sama dengan Kepolisian Resor (Polres) setempat untuk mengawal konvoi kendaraan yang membawa satwa berharga. Peran aparat keamanan juga penting dalam mencegah perburuan liar atau penjarahan satwa di lokasi bencana. Laporan mengenai operasi penyelamatan satwa di wilayah konservasi telah diserahkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tanggal 30 September 2025.

Akhirnya, evakuasi satwa liar harus diikuti dengan program rehabilitasi dan pelepasliaran yang terencana. Tujuan utama adalah mengembalikan satwa ke habitat aslinya setelah kondisi dinilai aman, atau menempatkannya di pusat konservasi jika kondisinya tidak memungkinkan. Dengan demikian, upaya penyelamatan ini memastikan kelangsungan hidup spesies dan pemulihan ekosistem yang terganggu oleh bencana.