Mitos ‘Bayi Diberi Jimat’ dan Eksistensi Paraji: Meluruskan Stigma dan Fakta Dukun Beranak
Peran dukun beranak, yang akrab disebut Paraji, seringkali dikelilingi oleh mitos dan stigma, salah satunya adalah praktik pemberian ‘jimat’ pada bayi. Padahal, praktik yang dianggap mistis tersebut seringkali merupakan bagian dari ritual tolak bala atau doa keselamatan. Stigma ini sering menutupi fakta penting mengenai Eksistensi Paraji sebagai penolong pertama di komunitas.
Mitos bahwa dukun beranak hanya mengandalkan kekuatan supranatural perlu diluruskan. Sebenarnya, mereka memiliki pengetahuan empiris yang kaya tentang herbal, pijat, dan tata cara tradisional perawatan ibu dan bayi. Pengetahuan ini adalah kearifan lokal yang telah teruji selama ratusan tahun, yang merupakan dasar dari Eksistensi Paraji yang bertahan hingga kini.
Salah satu fungsi krusial dari dukun beranak adalah dalam perawatan pasca-melahirkan (puerperium). Mereka memberikan layanan pijat pemulihan rahim dan mengaplikasikan bengkung atau stagen pada perut ibu. Perawatan fisik ini sangat penting untuk pemulihan dan merupakan bagian tak terpisahkan dari layanan holistik yang diberikan untuk mempertahankan Eksistensi Paraji di desa-desa.
Di daerah terpencil dengan akses kesehatan terbatas, dukun beranak sering menjadi satu-satunya harapan bagi ibu hamil. Mereka berperan sebagai konsultan yang selalu siap sedia, memberikan dukungan emosional, dan melakukan deteksi dini komplikasi sederhana. Hal ini menunjukkan bahwa Eksistensi Paraji didasarkan pada kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar kepercayaan.
Pemerintah melalui program kemitraan bidan dan dukun beranak (Paraji) telah berupaya meluruskan praktik yang berisiko. Dukun beranak kini diajak untuk berkolaborasi dan hanya bertugas mendampingi serta merujuk persalinan ke fasilitas kesehatan. Kolaborasi ini bertujuan memanfaatkan kedekatan Paraji dengan masyarakat, sambil menjamin keselamatan medis.
Stigma negatif terhadap dukun beranak seringkali muncul akibat kasus komplikasi persalinan yang fatal. Namun, ini sering disebabkan oleh kurangnya pelatihan dan minimnya akses mereka terhadap pengetahuan medis modern, bukan semata-mata karena praktik ‘mistis’. Penting untuk membedakan antara tradisi penyembuhan dan praktik yang berisiko.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Paraji memegang peran penting dalam pelestarian budaya. Melalui ritual dan perawatan tradisional, mereka menjaga identitas dan kearifan lokal sebuah komunitas. Peran mereka sebagai tokoh budaya ini harus diakui dan dihargai, bukan hanya dinilai dari sudut pandang medis semata.
Oleh karena itu, alih-alih memberantas Eksistensi Paraji, pendekatan yang lebih bijaksana adalah melalui edukasi dan integrasi. Dengan memberdayakan mereka melalui pelatihan kesehatan modern, kita dapat mengurangi risiko, sekaligus melestarikan peran mereka sebagai penjaga kearifan lokal dan pendukung utama ibu di pedesaan.
